Di lereng gunung yang hijau abadi, sebuah desa bertahta bagai burung garuda yang sayapnya terlipat rapat. Pohon beringin purba di tengah alun-alun, yang dulu akar-akarnya merangkul tanah subur untuk semua anak kampung, kini hanya memberi naungan bagi segelintir elang pemangsa. Daun-daunnya bergoyang ditiup angin petani, hembusan sawah yang lapar akan air irigasi, jerit buruh gurem yang tulangnya retak menanggung hasil panen orang lain, namun panglima desa, sang adipati tanah jati, seolah tuli. Telinganya hanya terbuka lebar untuk bisik angin kaya, hembusan dari istana-istana mini yang bau wanginya harum rempah kekuasaan.
Bayangkan sebuah gamelan desa yang iramanya seharusnya menyatukan seluruh kampung dalam kidung harmoni. Gong agengnya berdentang megah, saron dan bonang saling berbalas, demikian pula suara rakyat yang patut menjadi irama utama. Namun, lihatlah kini. Kenong besar hanya dipukul untuk lagu penguasa, suara peking kecil para petani tenggelam dalam denting peleg yang kasar dari kroni-kroni. Para budayawan Jawa pernah bilang, “Desa iku kaya wayang kulit, saben boneka gadhah peran.” Tapi di desa ini, hanya Semar dan Petruk yang elitis yang menari, sementara Buto Kayon raksasa menghantam wong cilik tanpa ampun. Wayang orang desa pun jadi boneka tali, ditarik-tarik oleh tangan tak kasat mata yang haus emas.
Seperti sungai Brantas yang dulu mengalir deras membasahi padi sawah dari hulu ke hilir, sistem pemerintahan desa ini kini bagaikan bendungan busuk. Airnya dicuri untuk kebun elit di pinggir kali, sementara dusun-dusun pelosok haus kekeringan, tanamannya layu bagai mimpi yang terlupakan. Para tetua adat, yang seharusnya bagai pohon jati yang kokoh menjaga adat istiadat, kini mirip daun kering yang jatuh ke pelukan angin borobudur palsu, hanya hiasan untuk upacara yang tak berarti bagi rakyat. Mereka mendengar nyanyian burung merak dari kandang emas, tapi tak peduli pada kokok ayam kampung yang bangun subuh membangunkan dunia nyata.
Ah, desa yang mulia, kau bagai candi Borobudur yang reliefnya indah, tapi tangga naiknya hanya untuk para raja kecil. Rakyatmu, para petani yang tangannya kasar bagai akar beringin, kini jadi patung batu yang diam tak bergerak. Kritik ini bukan racun, melainkan embun pagi yang menyentuh daun kering agar hijau kembali. Bangunlah, panglima desa! Buka telinga pada simfoni angin sawah, bukan hanya pada gema gendang penguasa. Biarlah desamu kembali menjadi taman surga tanah Jawa, di mana setiap helai rumput pun didengar, setiap tetes embun pun dihargai. Jika tidak, kau akan jadi dongeng wayang yang tragis, adipati buta yang runtuh ditelan longsor keadilan rakyat.
Redaksi MUHAJIR MAKRUF






