Pemuda itu berjalan menyusuri lorong waktu yang pengap oleh keraguan. Langkah kakinya gagu, beradu dengan gema tanya yang tak kunjung usai.
“Siapakah aku di hadapan semesta yang mahaluas ini?”
Ia merasa seperti kanvas kosong yang terlalu lama terpapar debu, menanti sebuah sapuan warna yang mampu memberinya makna. Namun, ia juga merasa seperti kuas yang telah kehilangan gagangnya memiliki hasrat untuk melukis, namun tak tahu harus memulai dari titik mana.
Di sudut lorong yang remang, ia menemukan sebuah noktah kesedihan. Seorang gadis duduk bersimpuh di tepi jalan, bahunya terguncang oleh isak yang seolah ingin membelah sunyi. Air matanya bukan sekadar air, itu adalah warna-warna primer yang luntur dari jiwanya, membasahi tanah yang gersang.
Pemuda itu berhenti. Keangkuhan pencarian jati dirinya luruh saat melihat kerapuhan di hadapannya. Tanpa sepatah kata, ia merogoh saku, mengeluarkan selembar sapu tangan putih sebersih niat yang mendadak muncul dari balik dadanya.
“Gunakan ini,” bisiknya pelan.
“Jangan biarkan kesedihan menghapus wajahmu sebelum dunia sempat mengenalinya.”
Saat jemari mereka bersentuhan, sebuah dialektika terjadi. Sapu tangan itu kini menjadi kanvas kecil yang menyerap duka sang gadis, sementara tangan sang pemuda tanpa sadar bertransformasi menjadi kuas yang sedang melukis garis ketenangan di udara.
Sang gadis mendongak, matanya yang sembap mencari kepastian. Dengan suara yang masih bergetar, ia berucap,
“Aku tersesat… bisakah kau tunjukkan aku jalan pulang?”
Pemuda itu tertegun. Ia sendiri adalah pengelana yang tak punya peta, seorang musafir yang sedang mencari rumah di dalam dirinya sendiri. Namun, permintaan tolong itu bagaikan sebuah kompas yang mendadak berfungsi.
Ia menyadari satu hal, kita tidak menemukan jati diri dengan terus-menerus menatap ke dalam cermin yang retak. Kita menemukannya saat kita menjadi kuas bagi kanvas orang lain yang sedang pudar. Saat ia mengulurkan tangan untuk menuntun gadis itu pulang, ia tak lagi peduli apakah ia kanvas atau kuas. Setiap langkah yang ia ambil untuk mengantar sang gadis bukan lagi sekadar perpindahan ruang, melainkan sebuah goresan warna yang tegas di atas lorong hidupnya yang tadinya kelabu. Ternyata, jalan pulang orang lain adalah rute tercepat untuk menemukan diri kita sendiri.
Redaksi Gaguk








