PROBOLINGGO – Di sudut permukiman Tajungan, RT 002 RW 008, Kelurahan Mangunharjo, Kecamatan Mayangan, Kota Probolinggo, aktivitas produksi layang-layang menjadi pemandangan rutin saat musim tiba.
Usaha tersebut digerakkan oleh Rizkie Rachmat Hidayah (31), yang memanfaatkan ruang di rumahnya sebagai tempat merakit layang-layang dari berbagai jenis dan ukuran.
Setiap hari, ia menghabiskan waktu untuk memotong bahan, merangkai rangka, hingga menyelesaikan proses akhir sebelum layang-layang siap dipasarkan.
Dalam satu hari, jumlah produksi berkisar antara 20 hingga 50 unit. Angka tersebut bisa meningkat tajam saat menerima pesanan dalam jumlah besar.
Pesanan partai besar bahkan mampu menembus hingga 100 unit, dengan pengiriman ke sejumlah daerah seperti Lumajang, Jember, Pasuruan, Malang hingga Surabaya.
Produk yang dihasilkan tidak hanya untuk permainan anak-anak, tetapi juga mencakup layang-layang dengan desain khusus yang memiliki tingkat kerumitan lebih tinggi.
Harga jualnya bervariasi, mulai dari Rp1.000 hingga Rp25.000, tergantung ukuran dan tingkat kesulitan dalam proses pembuatan.
Selain produksi reguler, Rizkie juga melayani pembuatan layang-layang untuk lomba. Dalam sehari, sekitar 20 unit layangan lomba dapat diselesaikan dengan harga antara Rp7.000 hingga Rp25.000.
Untuk mendukung kebutuhan pelanggan, ia turut menyediakan benang layangan dengan rentang harga mulai Rp2.000 hingga Rp200.000 untuk kualitas bermerk.
Usaha ini dijalankan bersama sang istri, Husnul Hotimah (31), sambil mengurus dua anak mereka, menjadikan aktivitas produksi sebagai bagian dari keseharian keluarga.
Rizkie mengungkapkan, menjaga konsistensi produksi menjadi kunci agar pesanan tetap terpenuhi tepat waktu.
“Selama musimnya masih ada, produksi terus kami jalankan. Yang penting kualitas tetap dijaga supaya pelanggan puas,” katanya.
Dengan jangkauan pemasaran yang semakin luas, usaha layang-layang rumahan ini berpotensi terus berkembang dan menjadi sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi keluarga. (Syl)








