Bayangkan hidup di desa terpencil, di mana tanah sawah jadi satu-satunya pewaris. Begitulah nasib pemuda 25 tahun yang lahir dari keluarga petani biasa. Tak ada darah bangsawan atau koneksi pejabat di pembuluh darahnya. Tapi, ada sesuatu yang beda, hasrat membara untuk lepas dari belenggu kasta rendah.
Tak menunggu mukjizat. Pagi bantu orang tua di ladang, sore bersepeda jauh ke warnet desa cari ilmu coding dan pemasaran digital lewat video gratis. Dari lumpur desa, ia berupaya ubah nasib jadi pengusaha muda. Ini bukti, ambisi kuat bisa hancurkan tembok kasta.
Menurut saya, pemuda adalah role model bagi ribuan anak kampung harapan Bangsa. Di zaman UU Desa dan program Prakerja, pintu peluang sudah terbuka. Tapi tantangan tetap ada, modal pas-pasan, plus ejekan tetangga yang bilang “gila sudah“. Pemerintah perlu gaspol bangun infrastruktur digital dan pelatihan di pelosok. Bagi pemuda lain, pelajaran sederhana, kasta bukan akhir cerita, tapi starting point buat perjuangan.
Jika semua Pemuda di desa bangkit, Indonesia tak lagi bicara kesenjangan desa dan kota. Mereka bukan cuma naik kasta pribadi, tapi dorong roda ekonomi nasional berputar kencang.
Redaksi Makruf






