Di lereng bukit desa yang hijau, di mana angin membisikkan doa-doa para leluhur, hidup seorang janda muda bernama Siti. Wajahnya bagai bunga melati yang layu, usianya baru menginjak tiga puluh, tapi pundaknya sudah menanggung tiga bintang kecil, tiga anak yang mata mereka berkilau haus akan nasi dan mimpi. Suaminya telah pergi ditelan bumi, meninggalkan warisan luka dan tanggung jawab yang lebih berat dari gunung.
Siti, putri seorang tokoh desa, dibesarkan dalam pelukan kitab suci. Agama baginya adalah napas, adalah cahaya yang tak pernah pudar. Tapi kelaparan anak-anaknya datang bagai banjir bandang, merobek kain sutra keyakinannya. Ia pernah dicinta oleh pujangga sekampungnya namun naasnya Restu orang tua tak berpihak pada keduanya. Tak lama kemudian, Seorang pria saleh dari kota datang, tawarkan tangan dan rezeki. Namun, ikatan pernikahan mereka terbentur tembok syariat. dia beda agama, sungguh tragis cintamu Siti, jalan lurus tak izinkan pernikahan itu. Demi roti harian ketiga malaikat kecilnya, Siti memilih mengorbankan mahkota imannya. Dia menikah di balik bayang-bayang gereja, di bawah salib yang dingin, meninggalkan masjid yang dulu menyanyikan azan di telinganya.
Pengorbanan itu bagai lilin yang dilempar ke badai, nyalanya redup, tapi tak padam. Siti tak menangis di sudut gelap, ia bangkit, menorehkan keringat di sawah orang, menjahit baju di malam buta, dan menyanyi lagu pengantar tidur untuk anak-anaknya. Semangatnya adalah api purba, yang membara meski angin sunyi berhembus kencang. Ia bukan pemberontak, tapi pejuang seorang ibu yang mengubah dosa menjadi doa, pengorbanan menjadi pelita.
Redaksi Mkrf






