Dulu, dalam tata ruang wilayah, hampir setiap gang pemukiman dilengkapi jublung atau sungai kecil. Saat musim kemarau, masyarakat memanfaatkan tanah galian untuk perawatan kedalaman sungai guna meninggikan rumah dan perkarangan mereka.
Jublung tak hanya berfungsi sebagai resapan air, tempat mandi, dan mencuci. Keberadaannya juga menjadi habitat ekologis bagi makhluk Tuhan lainnya, sehingga ikan dari sungai cukup menyediakan lauk-pauk harian masyarakat.
Di era modern, potret itu nyaris hilang. Semua berganti bangunan beton, besi, dan baja. Banyak rumah bahkan tak lagi punya halaman belakang. Padahal, halaman tak hanya untuk tanaman bunga dan herbal, tapi juga rumah bagi burung, ulat, serta hewan kecil lainnya.
Konsep ekologis yang rahmatan lil alamin bertanah air kini berganti batu dan besi. Air yang menghidupi manusia pun kesulitan kembali ke samudra setelah tugasnya selesai. Resapan semakin minim, jalur alirannya menyempit dan dangkal. Hujan yang seharusnya rahmat justru dituduh penyebab banjir.
Secara alami, air hanya menguap, meresap, atau mengalir ke tempat terendah: samudra, sebagai asal-usul dan cikal bakal hujan. Padahal, tuntunan agama mengajarkan manusia menjaga hubungan dengan alam, bukan hanya sesama dan investor.
Selamat menikmati banjir. Semoga kita temukan hikmahnya. Jika tak ada perubahan, periksalah jiwa pemimpin, cendekiawan, dan kita semua.
Oleh: Anak Bangsa






