Dalam hembusan angin pagi yang membawa aroma tanah basah dari sawah-sawah hijau di lereng desa, kita merenungkan sebuah lukisan alam yang kian pudar warnanya, tata kelola desa yang seharusnya menjadi tarian harmonis antara pemimpin dan rakyat, kini terombang-ambing seperti daun kering di musim kemarau. Bayangkan sebuah peristiwa, entah itu sengketa lahan yang membara bagai api kecil di jerami, atau banjir bandang yang menyapu mimpi-mimpi petani, telah mengetuk pintu kesadaran kolektif kita. Namun, pemimpin desa, sang penjaga gerbang adat dan kemajuan, justru diam bagai patung batu purba yang terkikis waktu, tak membeli ketegasan untuk melangkah maju. Ia membiarkan kabut ketidakpastian menyelimuti kampung, sementara suara rakyat bergema pelan seperti gamelan yang terputus iramanya.
Sebagai jong yang merindu akar-akar budaya kita yang kokoh, ana melihat ini bukan sekadar kelalaian administratif, melainkan luka halus pada jiwa desa. Tata kelola yang ideal adalah seperti wayang kulit di tangan dalang ulung, setiap gerak harus tegas, setiap adegan penuh hikmah, agar cerita kehidupan desa mengalir deras menuju kemakmuran. Pemimpin yang ragu-ragu ini, dengan sikapnya yang lentur bagai bambu diterpa angin kencang, justru membiarkan peristiwa itu membusuk menjadi racun yang meresap ke tanah subur. Ia tak segera mengumpulkan musyawarah mufakat, tak memanggil tetua untuk merajut solusi dari benang-benang tradisi, tak pun memberi isyarat tegas kepada pemerintah atas agar bantuan datang bagai hujan rindu. Akibatnya, desa yang dulu bernyanyi riang kini meratap dalam diam, di mana petani menatap langit dengan mata kosong.
Tulisan ini lahir dari pengamatan hati seorang pemuda yang mencinta tanah airnya, ketegasan pemimpin desa bukanlah kekerasan pedang, melainkan lembutnya air terjun yang membelah batu karang, membuka jalan bagi sungai kehidupan. Jika pemimpin terus menari dalam kelembutan yang berlebih, desa akan tenggelam dalam genangan ketidakpastian, di mana peristiwa kecil tumbuh menjadi gunung yang menindih. Mari kita bangunkan roh leluhur dalam diri para pemimpin ini dengan tegasan yang halus, penuh budi pekerti, agar desa kembali menjadi taman surga di pangkuan alam Jawa yang agung. Hanya dengan itu, lukisan tata kelola kita akan kembali berwarna-warni, abadi dalam cerita generasi mendatang.
Redaksi Muhajir Makruf






